POHON, Tabungannya Orang Sibuk dan Perantau....
Yang Terhormat Saudara Perantau
Secara alami sudah pasti setiap orang akan melemah kekuatan fisik dan spiritnya, disaat usia kita menjadi tua, atau aktifitas rutin/formal kita terhenti populernya Pensiun. Tentu masing masing punya persiapan sendiri dalam menghadapinya. Ada yang menabung uang, tanah kebun, rumah dll. Masing masing punya resiko dan keuntunganya. Dan kebetulan saya menyipakan diri dengan membuat kebun POHON.
Saya PNS di Kementerian Kehutanan, saya menyadari bila semua berjalan lancar 9 tahun lagi saya pensiun. Persiapan yang saya lakukan pada tahun 2002 saya mulai menanam bibit kayu sebanyak 3500 batang dengan asumsi pada umur 20 tahun masih tersisia 1000 pohon tinggal karena penjarangan. Walaupun tanpa pemeliharaan intensif, syukur kebun tersebut hingga hari ini tumbuh baik dan sudah memiliki diameter batang rata rata > 23 cm, tinggi rata rata bebas cabang > 6 m. Harapan saya 9 tahun nanti pohon bisa mencapai diameter 30 cm up, taksasi harga pesimis kemungkinan bisa mencapai 1 juta/pohon, perkalian itulah sebagi tabungan dan pengharapan saya sekeluarga. Cara ini juga sudah banyak diikuti sahabat saya yang menjadi Pegawai Swasta, TKI, Tukang Bakso, Tukang Bangunan, Perantau lain, kebetulan bibit saya carikan yang gratisan....syukurnya mereka bila hari lebaran pulang....selalu terkagum kagum dengan kebunya sendiri.
Pelajaran yang saya peroleh, pertama pohon memiliki pertumbuhan menjulang ke atas maknanya kita memiliki pengharapan juga keatas, disaat kita melihat tingginya pohon, kita juga tengadah ke atas sekaligus memanjatkan syukur kepada yang empunya alam, karena kita sadar bahwa kita hanya mampu menanam tanpa memeilhara, itupun masih tumbuh baik. Kedua banyak terjadi para perantau juga mencoba mempercayakan investai kepada saudara, teman, tenaga kerja pada kegiatan tanaman semusim (sawah, jagung, sayur) hasilnya dimakan ulat, tikus dll; yang di perkebunan sawitnya dimakan babi; karetnya terbakar, yang di kebun buah, buahnya dicuri, semua intinya tidak ada yang dipanen, lebih ekstrim lagi hilang semua tanpa bekas....sedih kan. Maka jangan lah mudah percaya pada tenaga jaman sekarang, mau orang dari ujung Barat sampai Timur dari Desa sampai Kota yang namannya menjaga tanggungjawab dan kepercayaan sepertinya sudah luntur semua, apalagi tuanya jauh, argumen pembenaran atas kegagalan panen sudah menjadi ciri orang kita....orang kita....., orang kita....orang kita.....orang kita.....waspadalah. Kebetulan saya sudah masuk banyak karakter wilayah tersebut..., teteapi dan heranya apabila kita dekat dan bersama atau mendampingi mereka, usaha tersebut juga berhasil....tapi kita sadar bahwa kita Perantau.
Renungkanlah...Menanam POHON
1. Investasi murah hasil lumayan
2. Tidak sempat memelihara, alampun tetap menjaganya
3. Pencuri malas karena berat mikulnya, mengurangi pembohong
4. Terkurangi simpananya (ditebang) tidak kecewa malah syukur “untung 20 tahun lalu tanam”, bayangkan jika simpanan uang ..sudah pasti sekian persen jantung berdenyut keras ....merasa kehilangan
5. Bibit bisa gratais asal tau caranya
6. Menjadi sahabat alam karena turut menlestarikan
7. Didoakan oleh dedaunan karena iklas menghijaukanya
8. Masa depan anak untuk kecukupan papan sudah pasti ada, mungkin biaya sekolah, nikah pun terselesaikan...
9. ........keuntungan lainya tolong bantu yaa.....
Bagi sahabat perantau setuju ...ayo bergabung dalam syukuran alam perantau bersama POHON..